Kesehatan

3 Sumber Karbohidrat Pengganti Beras yang mana Mahal, Bisa Turunkan Risiko Diabetes

Liputan76 – JAKARTA – Harga beras menjadi sorotan masyarakat. Pasalnya, ketika ini tarif beras menembus Rp17 ribu per kilo dan juga menjadi nilai tukar beras paling tinggi.

Menyikapi kondisi itu, dokter spesialis penyakit dalam, Profesor Zubairi Djoerban memberikan alternatif terhadap publik pada memenuhi permintaan karbohidrat di tempat berada dalam naiknya nilai tukar beras, yakni dengan mengonsumsi makanan, seperti jagung, ubi jalar juga singkong.

“Situasi yang digunakan cukup pelik. Namun mari coba lihat dari sisi lain. Bagaimana kalau naiknya biaya beras ini kita jadikan peluang untuk hidup lebih lanjut sehat dengan memanfaatkan sumber karbohidrat lain?” kata Profesor Zubairi, diambil dari akun X @ProfesorZubairi, Akhir Pekan (17/3/2024).

Profesor Zubairi mengungkapkan jagung mempunyai karbohidrat kompleks, serat lalu protein yang tersebut menciptakan jagung lebih lanjut lama dicerna pada tubuh. Kemudian ada serat jagung yang tersebut sanggup memperlambat pemecahan karbohidrat. Di sisi lain, jagung juga mempunyai indeks glikemik berada pada bilangan 52.

Sedangkan ubi jalar mengandung potasium atau kalium yang digunakan mampu untuk kontrol tekanan darah. Skala glikemik ubi jalar ketika mentah berada di area hitungan 41.

Namun, indeks glikemiknya mampu berubah tergantung pengolahan. Contohnya apabila direbus selama 30 menit, indeks glikemiknya di tempat bilangan bulat 46. Namun, jikalau direbus hanya saja 8 menit nilai indeks itu bisa jadi menjadi 61.

Lebih lanjut pada singkong, lantaran miliki indeks glikemik berada di area bilangan bulat 46, bilangan bulat yang disebutkan masuk di kategori rendah sehingga gula darah tak naik di waktu singkat.

“Coba hanya perlahan untuk mengubah kebiasaan makan dengan memanfaatkan sumber karbohidrat alternatif yang disebutkan agar tidaklah terlalu bergantung dengan nasi putih. Dengan begitu kantong tetap memperlihatkan aman, badan pun tetap saja sehat,” ucap Profesor Zubairi.

Hal itu oleh sebab itu semakin kerap seseorang mengonsumsi makanan dengan indeks glikemik tinggi dapat berpengaruh terhadap kehancuran pembuluh darah juga saraf yang dimaksud mengontrol jantung lalu menyebabkan terbentuknya plak di dalam dinding arteri.

Kondisi itu juga didukung dengan beberapa penelitian lainnya yang mana menemukan seseorang mengonsumsi nasi putih dengan porsi lebih banyak banyak mempunyai risiko lebih lanjut tinggi mengembangkan hiperglikemia tipe 2 dibandingkan yang mengonsumsi dengan porsi lebih tinggi sedikit. Karena sebagaimana diketahui, nasi putih memiliki indeks glikemik lebih banyak tinggi.

“Dengan nomor indeks glikemik yang disebutkan maka karbohidrat pada nasi putih dicerna lebih tinggi cepat oleh tubuh sehingga kadar gula darah pun naik lebih banyak cepat,” tuturnya.

Related Articles

Back to top button