Ekonomi

Anak Muda Lebih Mudah Terjebak Pinjol Ilegal Akibat Godaan Paylater

Liputan76 – Friderica Widyasari Dewi, selaku Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, lalu Pelindungan Pengguna OJK mengatakan, generasi muda kadang-kadang belum bijak di memanfaatkan barang keuangan yang digunakan sah, meskipun komoditas yang dimaksud bersifat digital.

“Waktunya sekarang, berbagai produk-produk keuangan yang dimaksud sudah ada beralih ke ranah digital. Namun, yang digunakan perlu diwaspadai adalah ketika generasi muda mengakses item keuangan ilegal yang sangat mudah ditemukan secara online. Meskipun ada juga yang tersebut mengakses item yang tersebut legal, namun terkadang merek masih kurang bijak pada penggunaannya,” ujar Friderica pada waktu mengikuti Acara Edukasi Keuangan Bagi Pelajar tingkat SMA/sederajat di area Indonesia Banking School, Jakarta, pada hari Hari Senin (22/1/2024).

Menurut dia, generasi mudah dengan mudah berselancar pada dunia digital, yang digunakan berarti merekan mempunyai pemahaman cukup terhadap literasi digital. 

Namun, apa yang tersebut menjadi permasalahan adalah mereka masih minim pemahaman tentang literasi keuangan digital, antara lain berkaitan dengan mengakses komoditas keuangan.

Menurut dia, sebagian dari generasi muda menggunakan pinjaman online (pinjol) secara ilegal, namun ketika ini sejumlah di dalam antara merekan yang dimaksud berpartisipasi menggunakan hasil keuangan “buy now pay later” (BNPL).

“Banyak generasi muda yang digunakan mulai menggunakannya, terkadang cuma untuk keperluan makan atau kegiatan bersatu pasangan, kadang juga untuk membeli pakaian. Mereka tiada menyadari bahwa penyelenggaraan BNPL ini dapat mengakibatkan utang yang menumpuk dan juga harus merek bayar,” ungkap Friderica.

Terakumulasi utang akibat pemanfaatan BNPL juga dapat berdampak pada Sistem Layanan Data Keuangan (SLIK) setiap debitur, sehingga generasi muda menghadapi kesulitan di mencari pekerjaan akibat memiliki catatan buruk pada SLIK.

Ia menceritakan, ada satu bank yang menyediakan Kredit Perumahan Rakyat (KPR), tetapi banyak generasi muda tak mampu memperoleh layanan yang dimaksud sebab miliki utang yang digunakan menumpuk di area produk-produk keuangan seperti BNPL, padahal utang mereka cuma kisaran Rp300 ribu-Rp500 ribu.

Selain itu, terdapat pula konsumen dari produk-produk keuangan seperti BNPL yang dimaksud mempunyai kredit bulanan hingga miliki cicilan sebesar 95 persen dari penghasilan per bulan. Artinya, apabila debitur yang dimaksud mempunyai penghasilan Rp10 juta, maka Rp9,5 jt dipakai untuk membayar utang.

Mengamati kenyataan terkait isu keuangan, pihaknya intensif pada meningkatkan literasi keuangan khususnya bagi generasi muda.

Selain itu, OJK juga menggerakkan semua pelopor keuangan untuk mengutamakan kesejahteraan konsumen, bukanlah sekadar fokus pada peningkatan transaksi jual beli produk-produk keuangan.

“Jadi, kita tidaklah ingin seseorang dipacu cuma untuk menggunakan produk, tetapi pada akhirnya tidaklah memberikan kegunaan kesejahteraan, bahkan dapat menyebabkan merek pada kesulitan. Oleh akibat itu, generasi muda tidak ada hanya saja diajarkan untuk menggunakan produk, tetapi juga untuk menjadi bijak di penggunaannya,” pungkasnya.

(Sumber: Suara.com)

Related Articles

Back to top button