Kesehatan

Bolehkah Pasien Gagal Ginjal Berpuasa?

Liputan76 – JAKARTA – Bolehkan pasien gagal ginjal berpuasa? Ini adalah mengingat kondisi pasien gagal ginjal tahap lanjut sebenarnya tidaklah memungkinkan untuk menjalani puasa.

Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) menganjurkan para pasien gagal ginjal kronis untuk tidaklah melakukan puasa selama bulan Ramadan. Imbauan ini merujuk pada kesepakatan dan juga panduan dari beberapa ahli.

“Memang belum ada kesepakatan, tapi ada beberapa ahli sudah ada melaporkan melalui beberapa panduan. Jadi pasien-pasien dengan penyakit ginjal tahap lanjut bukan dianjurkan berpuasa Ramadan,” ujar Ketua Umum PERNEFRI Dr.dr. Pringgodigdo Nugroho di jumpa pers Hari Ginjal Sedunia.

Begitu juga dengan para pasien cuci darah. Menurut dr.Pringgo, dia termasuk di kategori pasien tahap lanjut yang mana juga tak dianjurkan untuk melakukan puasa di dalam bulan Ramadan.

“Bagaimana untuk pasien yang cuci darah? Sebenarnya ini kategori pasien yang mana tahap lanjut juga ya,” ungkapnya.

Meski tidaklah dianjurkan, dr.Pringgo menyebut, bahwa masih sejumlah pasien gagal ginjal kronis atau pasien cuci darah yang mana justru sanggup masih melakukan puasa. Hal yang dimaksud menurutnya kondisional, sesuai dengan kemampuan para pasien.

“Namun sekali lagi memang benar ini menyangkut juga keyakinan ya. Karena kalau dari sisi ahli berbagai yang tersebut menyampaikan ini bukan boleh, namun kenyataannya, pasien-pasien yang cuci darah ini sejumlah yang mana melakukan puasa Ramadhan,” paparnya.

“Jadi ada beberapa laporan, bukanlah dikarenakan anjuran dari dokter, tapi menghadapi kemauan pasiennya itu melakukan puasa ini dilaporkan lalu ada yang digunakan bisa jadi menjalaninya dengan penuh, ada yang tersebut bisa jadi menjalaninya di dalam luar pada ketika cuci darah,” kata beliau lagi.

Meski begitu, beliau mengingatkan para pasien gagal ginjal kronis lalu pasien cuci darah agar melakukan konsultasi terhadap dokter apabila memang sebenarnya memaksakan diri ingin berpuasa.

“Yang penting dari studi-studi ini meninjau bahwa tergantung kondisinya. Kondisi pada waktu memulai puasa Ramadan sebaiknya dikonsultasikan ke dokter,” imbaunya.

“Dan dilaksanakan pemeriksaan kemudian hasil laboratoriumnya, kondisi secara umumnya untuk menjalani puasa Ramadhan, mungkin saja ini mampu dijalankan ya. Jadi secara umum, memang sebenarnya tidak ada dianjurkan (puasa),” kata beliau lagi.

Related Articles

Back to top button