Kesehatan

Didiuga Picu Kanker, eksekutif DIminta Serius Tangani Senyawa Bromat Dalam AMDK

Liputan76 – otoritas diminta turun tangan terkait zat Bromat di Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Hal yang disebutkan mengingat Bromat merupakan zat karsinogenik yang tersebut berdampak buruk bagi tubuh apabila dikonsumsi pada jumlah agregat banyak.

“Dugaannya kan ke kanker, (berdampak) ke alat-alat reproduksi serta juga pada gangguan lain pada sistem saraf ya,” kata Ahli Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) Ahmad Zainal pada keterangannya baru-baru ini. 

Bromat berasal dari Bromida. Senyawa alami Bromida merupakan zat yang tersebut memang benar ada pada sumber tanah air mineral. Bromida berubah menjadi bromat setelahnya terkena proses ozonisasi.

Senyawa bromida yang tersebut berubah menjadi bromat bersifat karsinogenik atau beracun dan juga berpotensi dapat menyebabkan kanker. Meskipun diperlukan penelitian lebih lanjut lanjut.

Zainal mengatakan, pada waktu ini isi kemudian bahaya Bromat masih belum menjadi perhatian penting di dalam Indonesia. Padahal, air mineral merupakan keinginan primer yang digunakan hampir dikonsumsi setiap saat.

Dia melanjutkan, hingga ketika ini juga belum ada penelitian mendalam terkait Bromat. Dia mengatakan, fokus pemerintah ketika ini masih terhadap isi mikroplastik, Etilen Glikol (EG) juga Bisphenol A (BPA).

Ilustrasi air minum yang dimaksud sehat (Pexels/LisaFotios)
Ilustrasi air minum yang dimaksud sehat (Pexels/LisaFotios)

“Senyawa brom itu ada di tempat sumber air jadi kemungkinan ada di dalam AMDK, kalau dalam wadah tidak ada ada ya,” katanya.

Zainal melanjutkan, bahaya komposisi Bromat juga perlu diangkat mengingat hal itu menyangkut kemampuan fisik rakyat luas. pemerintahan pada hal ini Badan Pengawas Penyelesaian juga Makanan (BPOM) telah lama menetapkan ambang batas Bromat 10 mikrogram/per liter.

Artinya, sambung dia, bukan boleh ada hasil AMDK yang mana mengandung Bromat lebih tinggi alias melanggar ambang batas yang mana telah lama ditentukan pemerintah. Dia melanjutkan, pemerintah juga harus terus melakukan uji coba secara berkala terhadap setiap barang AMDK yang tersebut beredar di dalam pasaran.

“Jadi, diminta atau tidak ada diminta, dilaporkan atau tidaklah dilaporkan itu BPOM harus mengecek lantaran ada regulasi ambang batas ini. Harus ada regular check and evaluation-nya,” tegasnya.

Sebelumnya, zat Bromat pada AMDK diangkat oleh akun instagram @Winnews_ kemudian menjadi perbincangan di tempat jagad maya. Video yang disebutkan mengaku telah terjadi melakukan tes terhadap 10 komoditas AMDK pada Indonesia.

Hasilnya, 1 dari 10 AMDK yang di dalam tes tanpa menyebutkan merek ini mengandung bromat melebihi ambang batas yang tersebut diperbolehkan. Tak tanggung-tanggung, isi bromat yang tersebut ada di salah satu hasil AMDK itu mencapai 58 mikrogram alias hampir 60 kali lipat dari ambang batas yang dimaksud diperbolehkan.

Tekait hal tersebut, Asosiasi Produsen Air Minum Kemasan Nasional (ASPARMINAS) mengadakan sosialisasi mitigasi zat Bromat pada AMDK bersatu BPOM RI. Sekretaris Jenderal ASPARMINAS, Nio Eko Susilo menyatakan bahwa sudah ada menjadi tugas sama-sama untuk melakukan perbaikan dari sisi proses serta saran agar komoditas dapat sesuai dengan regulasi yang digunakan ada.

Dia mengungkapkan semua anggota untuk sama-sama mencari tahu bagaimana menghurangi atau bahkan mengeliminasi resiko isi Bromat. Dia berharap dapat pencerahan supaya seluruh anggota dapat segera bertindak untuk melakukan perbaikan-perbaikan yang dimaksud diperlukan.

Direktur Pengawasan Produksi Pangan Olahan Badan Pengawas Solusi lalu Makanan Republik Indonesia Sondang Widya Estikasari menilai penting bagi asosiasi agar sadar akan produk-produk yang aman serta bermutu.

Dia menyampaikan ada beberapa faktor kritis di proses produksi AMDK secara umum. Pertama, dari pengadaan air baku juga sumber air produsen harus pastikan air baku bersumber dari sumber air bermutu terjamin.

Kedua, memverifikasi tangki air memenuhi ketentuan tangki air minum juga clearing tangki air pada penyimpanan air baku. Ketiga, harus melakukan pemantauan terhadap kondisi karbon berpartisipasi lalu maupun mikrofilter di penyaringan.

Keempat, pastikan ozon pada tangki pencampur ada di tempat antara 0.1 ppm – 0.6 ppm dan juga pemakaian sinar UV sesuai dengan spesifikasi alat pada proses desinfektan. Kelima, pastikan pengisian kemudian penutupan tidaklah dilaksanakan secara higienis pada ketika pengisian.

“Keenam pada pengepakan, pastikan kemasan sudah ada food grade,” kata Sondang seperti dikutipkan situs resmi ASPARMINAS.

Related Articles

Back to top button