Kesehatan

Dokter Paru Tegaskan Beralih ke Vape Tidak Bisa Buat Seseorang Jadi Berhenti Merokok

Liputan76 – Rokok elektronik atau vape kerap dijadikan alat bagi seseorang untuk berhenti menghisap rokok konvensional. Padahal menghentikan kebiasaan merokok tak sesederhana beralih jenis rokok yang dihisap. 

Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Prof. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K)., menegaskan bahwa vape juga sejenis menciptakan kecanduan seperti rokok konvensional, dikarenakan masih mengandung nikotin yang dimaksud bersifat adiktif. 

“Rokok elektronik itu tiada memenuhi ketentuan sebagai nicotine replacement therapy untuk berhenti merokok,” kata prof. Agus di konferensi pers virtual, Selasa (9/1/2024). 

ilustrasi seseorang merokok (pexels.com/cottonbrostudio)
ilustrasi seseorang merokok (pexels.com/cottonbrostudio)

Merujuk dari anjuran Organisasi Bidang Kesehatan Global (WHO) mengenai nicotine replacement therapy atau terapi penggantian nikotin, terdapat beberapa ketentuan yang tersebut harus terpenuhi. Dari setiap anjuran itu bukan ada yang tersebut menyatakan peralihan pemanfaatan vape demi berhenti dari rokok konvensional. 

Prof. Agus menegaskan bahwa persyaratan pertama di nicotine replacement therapy justru seseorang harus berhenti mengonsumsi nikotin pada bentuk rokok apa pun. 

“Faktanya di area Indonesia justru 2 pengguna (pengguna rokok elektrik lalu konvensiomal) di dalam kita itu tinggi, 51 persen pelajar di dalam Indonesia itu riset Uhamka. Dan 61,5 persen pelajar jadi 2 penggunan di dalam Indonesia,” ungkap prof Agus.

Syarat kedua, lanjut prof. Agus, nikotin yang digunakan untuk tujuan berhenti merokok harus dapat mengatasi withdrawal atau reaksi yang digunakan melibatkan fisik serta mental seseorang ketika menghentikan asupan zat tersebut. Vape bukan memenuhi persyaratan yang disebutkan sebab zat nikotin di area dalamnya masih bersifat adiktif.

Dalam ilmu kedokteran juga belum ada bukti ilmiah atau hasil studi yang menyatakan vape dapat digunakan untuk terapi berhenti merokok. Sebaliknya, vape justru mampu menyebabkan berbagai kesulitan kesehatan. Walaupun tidaklah ada isi tar dalam dalamnya, seperti rokok konvensional, tetapi nikotin dan juga zat-zat kecil yang tersebut ada di tempat dalamnya masih berbahaya bagi kebugaran tubuh, termasuk kanker.

“Baik rokok konvensional maupun elektronik sama-sama mengandung material toksik yang dimaksud sifatnya iritatif, pada bagian asap maupun uap asap mengandung partikel halus yang tersebut disebut dengan partikular dapat merangsang terjadinya iritasi dengan induksi peradangan,” jelasnya.

(Sumber: Suara.com)

Related Articles

Back to top button