Teknologi

Media Massa Sosial Raup Iklan USD11 Miliar dari Konsumen di tempat Bawah 18 Tahun

Liputan76 – WASHINGTON – Para peneliti dari Universitas Harvard menyatakan bahwa sekitar 30-40% pendapatan iklan yang dihasilkan media sosial, seperti Snapchat, TikTok, lalu YouTube berasal dari generasi muda. Raksasa media sosial , seperti Instagram, X (Twitter), dan juga Snapchat secara kolektif memperoleh pendapatan iklan hampir USD11 miliar (Rp170,9 triliun) pada tahun 2022 dari pengguna berusia di dalam bawah 18 tahun

Tim yang dipimpin oleh Harvard T.H. Chan School of Public Health, Universitas Harvard, juga menemukan bahwa dari pengguna berusia 13-17 tahun, TikTok memperoleh USD2 miliar serta YouTube Mata Uang Dollar 1,2 miliar pada tahun 2022.

Mereka menemukan bahwa meskipun di area antara pengguna berusia 12 tahun ke bawah, YouTube memperoleh pendapatan iklan terbesar sekitar USD1 miliar pada tahun 2022. Sedangkan dalam antara pengguna berusia 13-17 tahun, Instagram menghasilkan kembali pendapatan tertinggi sekitar USD4 miliar.

Mereka menemukan bahwa semua wadah media sosial ini secara kolektif menciptakan hampir Dolar Amerika 11 miliar pendapatan iklan dari para pengguna. Sekitar USD2,1 miliar dari pengguna berusia 12 tahun ke bawah, kemudian USD8,6 miliar dari pengguna berusia 13-17 tahun.

Tim juga menemukan bahwa pada tahun 2022, YouTube mempunyai hampir 50 jt pengguna di tempat bawah 18 tahun pada AS, sementara TikTok mempunyai sekitar 19 juta, Snapchat 18 juta, Instagram 16,7 juta, Facebook sekitar 10 juta, lalu X 7 juta.

Hal ini menunjukkan bahwa platform-platform ini miliki “insentif finansial yang digunakan luar biasa” dikarenakan terus menunda langkah-langkah yang mana berarti untuk mengatasi hambatan tersebut. Terutama melindungi anak-anak dari bahaya pengaplikasian media sosial.

Para peneliti mengungkapkan bahwa meskipun raksasa media sosial ini mengklaim mampu mengatur sendiri praktik merek pada menghurangi dampak buruk terhadap generasi muda, mereka itu belum melakukan hal tersebut. Mereka telah lama mempublikasikan temuannya dalam jurnal PLoS ONE.

“Temuan kami bahwa platform digital media sosial menghasilkan kembali pendapatan iklan yang tersebut besar dari generasi muda menyoroti perlunya transparansi data yang tersebut tambahan besar juga intervensi kemampuan fisik publik kemudian peraturan pemerintah,” kata Amanda Raffoul, instruktur pediatri di area Harvard Medical School disitir SINDOnews dari laman telegraphindia, Kamis (4/1/2024).

(Sumber:SindoNews)

Related Articles

Back to top button