Kesehatan

Menkes Ingin Deteksi Dini Kanker Bisa Dilakukan pada Puskesmas, Lebih Murah Meriah?

Liputan76 – Menteri Aspek Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengimbau pentingnya upaya deteksi dini untuk menurunkan hitungan kematian yang disebabkan oleh kanker.

“Strategi utama menurunkan nomor kematian akibat karsinoma adalah dengan deteksi dini. Kalau tumor ganas bisa saja diketahui lebih banyak dini, tingkat kesembuhannya lebih besar besar, kemudian biayanya juga lebih tinggi murah,” ungkap Menkes Budi di keterangannya baru-baru ini. 

Sejalan dengan upaya mewujudkan perubahan struktural kesehatan, Kementerian Bidang Kesehatan terus berupaya melengkapi prasarana pelayanan kondisi tubuh deteksi dini tumor ganas pada tingkat puskesmas kabupaten/kota. Hal ini untuk mempermudah rakyat pada melakukan layanan deteksi dini. 

Layanan deteksi dini ini khususnya untuk 4 jenis neoplasma utama, yakni karsinoma susu lalu karsinoma serviks pada wanita, dan juga tumor ganas paru-paru kemudian tumor ganas usus yang mana banyak kasusnya ditemui pada pria.

Ilustrasi tumor ganas (Pixabay/PDpics)
Ilustrasi tumor ganas (Pixabay/PDpics)

Menkes Budi menyatakan semua puskesmas di area 514 kabupaten/kota sedang disiapkan untuk mampu melayani deteksi dini 4 jenis neoplasma tersebut.

“Semua puskesmas sedang kami siapkan. Harapannya tahun ini, semua alatnya sanggup selesai kita bagikan secara bertahap ke 10.000 Puskesmas di tempat 514 Kabupaten/Kota,” ujar Menkes.

Alat kemampuan fisik yang dimaksud, yakni utamanya untuk deteksi dini karsinoma kelenjar susu adalah Probe Linear USG. Sedangkan untuk deteksi dini tumor ganas serviks, Kemenkes sudah ada mulai meluncurkan tes HPV DNA yang mana hasilnya lebih besar akurat juga prosesnya lebih lanjut mudah dibandingkan dengan Pap Smear.

Selain itu, Menkes Budi menyebutkan layanan deteksi dini tumor ganas paru-paru dan juga tumor ganas usus juga akan disediakan. Kemenkes berusaha mencapai setiap puskesmas dapat melakukan layanan skrining neoplasma paru dengan alat Low Dose CT-Scan (LDCT) juga karsinoma usus besar dengan kolonoskopi.

LDCT mampu mendeteksi lesi kecil atau nodul pada paru-paru yang tersebut mungkin saja merupakan tanda awal tumor ganas paru-paru.

“Kita akan selesaikan secara bertahap dalam 514 kabupaten/kota supaya tiap puskesmas punya CT-Scan biar dapat melakukan prosedur Low Dose CT-Scan untuk deteksi dini neoplasma paru-paru lalu kolonoskopi untuk deteksi dini karsinoma usus besar,” kata Menkes Budi.

Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Utama RS Kanker Dharmais dr. R. Soeko Werdi Nindito mengungkapkan RS Kanker Dharmais siap bekerja mirip dengan kolegium lalu organisasi profesi untuk memberikan pelatihan terhadap dokter-dokter umum di tempat puskesmas untuk dapat melakukan layanan deteksi dini kanker.

 “Kami akan bergabung juga melatih dokter-dokter umum dalam puskesmas untuk sanggup melakukan USG juga layanan deteksi dini tumor ganas lainnya dengan turut bekerja identik dengan organisasi profesi lalu kolegium supaya pelatihan secara masif dapat dijalankan pada waktu cepat,” ungkap dr. Soeko.

Kementerian Kesejahteraan juga bekerja identik dengan kolegium serta organisasi profesi untuk menjamin semua rumah sakit siap melakukan layanan penyakit kanker. 

Selanjutnya, Menkes Budi berharap upaya ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran publik untuk mau pergi ke puskesmas lalu melakukan skrining juga pemeriksaan deteksi dini kanker. 

“Kita semua perlu berkolaborasi melakukan edukasi yang tersebut masif supaya warga mau pergi ke puskesmas untuk lakukan deteksi dini. Warga jangan takut buat skrining kemudian periksa. Jika terdeteksi ada yang tersebut positif kanker, tak perlu khawatir, bisa saja dengan segera rujuk ke rumah sakit sebab sudah ada kami siapkan untuk dilaksanakan perawatan berikutnya. Lebih cepat ditemukan maka kemungkinan sembuhnya juga besar,” tutup Menkes Budi.

Related Articles

Back to top button