Ekonomi

Nggak Main-main! Ini adalah Peluang Kondisi Keuangan Hilirisasi Migas di dalam Dalam Negeri

Liputan76 – JAKARTA – Hilirisasi menjadi salah satu upaya pemerintah guna mendongkrak nilai tambah pada di negeri. Seperti halnya di dalam sektor tambang, pengembangan lebih lanjut dalam sektor migas ternyata juga menawarkan kegunaan kegiatan ekonomi luar biasa bagi Indonesia.

Terungkap pada catatan ReforMiner Institute, pengembangan lebih lanjut kemudian keberadaan sektor kilang migas tercatat telah lama memberikan khasiat dunia usaha lalu menjadi motor penggerak utama sejak awal pelaksanaan perkembangan di area Indonesia. Keberadaan kilang migas menjadi salah satu alasan pemerintah dapat memberlakukan kebijakan unsur bakar minyak (BBM) bersubsidi yang lantas menjadi katalis bagi perkembangan ekonomi.

“Berdasarkan data serta informasi, penyelenggaraan pengembangan lebih lanjut migas yang akan dilaksanakan untuk tahun 2025-2040 ditargetkan akan mendatangkan total pembangunan ekonomi sekitar Rp1.053 triliun, yang mana terdistribusi melawan Rp314,71 triliun untuk proses lanjut minyak bumi kemudian Rp771,70 triliun untuk proses pengolahan lebih lanjut gas bumi,” papar Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi pada catatan tersebut, diambil Rabu (13/3/2024).

Hilirisasi migas yang digunakan akan dilaksanakan pada 2025-2040 tersebut, beberb dia, diproyeksikan berpotensi memberikan dampak positif terhadap kinerja sektor moneter Indonesia kemudian stabilitas nilai tukar rupiah. “Pelaksanaan pengembangan lebih lanjut migas diproyeksi akan menghemat pengaplikasian devisa impor sekitar USD73,30 miliar atau setara dengan Rp1.134 triliun,” tuturnya.

Salah satu bentuk pengembangan lebih lanjut migas adalah sektor kilang. Menurut Komaidi, sampai pada waktu ini lapangan usaha kilang migas masih berperan penting terhadap perekonomian Indonesia. Berdasarkan data, jelas dia, lapangan usaha kilang migas memiliki keterkaitan dengan sekitar 93 sektor ekonomi pendukung sebagai pemasok input lalu dengan 183 sektor perekonomian pengguna yang tersebut menggunakan hasil produksi dari sektor kilang.

Peran penting bidang kilang juga terlihat dari alokasi hasil produksi. Sekitar 67,25 % output sektor kilang dialokasikan sebagai input atau unsur baku untuk sekitar 183 sektor dunia usaha penggunanya. Sementara sekitar 32,75 % output lapangan usaha kilang dialokasikan untuk memenuhi permintaan akhir atau konsumsi yang tidak ada terkait dengan proses produksi.

Berdasarkan analisis model Input-Output (IO), jelas Komaidi, lapangan usaha kilang mempunyai total nilai efek pengganda (multiplier effect) sektor ekonomi dari keterkaitan dengan sektor pendukung dan juga penggunanya sebesar 9,1604. “Artinya, apabila terdapat tambahan pembangunan ekonomi sebesar Rp1 triliun pada lapangan usaha kilang, total khasiat kegiatan ekonomi yang digunakan berpotensi dapat tercipta pada seluruh struktur perekonomian
Indonesia adalah sekitar Rp9,16 triliun,” tandasnya.

Dia menambahkan, analisis model IO juga menemukan bahwa lapangan usaha kilang migas mempunyai keterkaitan dengan sebagian besar pembentukan item domestik bruto (PDB) Indonesia. Bidang pendukung bidang kilang tercatat terkait dengan sekitar 67,48% pembentukan PDB, sedangkan sektor pengguna sektor kilang terkait dengan sekitar 99,71% pembentukan Ekonomi Nasional Indonesia. Hilirisasi dan juga prospek usaha sektor kilang migas pun diproyeksikan masih cukup baik lalu besar. Hal itu terkait dengan kondisi pada waktu ini di area mana sekitar 70% permintaan petrokimia juga 32% keinginan BBM Indonesia, masih dipenuhi dari impor.

Komaidi menambahkan, proses lanjut migas juga berpotensi memberikan khasiat positif terhadap kinerja keuangan Pertamina kemudian keuangan negara. Fakta menunjukkan, pendapatan segmen kilang serta petrokimia Pertamina pada tahun 2022 dilaporkan sekitar Rp572 triliun. Sementara, partisipasi segmen kilang kemudian petrokimia Pertamina terhadap penerimaan negara melalui pembayaran pajak (PPh 22 Impor, PPN & PPnBM, Bea dan juga Cukai, juga Pajak Daerah) pada tahun 2022 tercatat mencapai Rp49,72 triliun.

Mengingat besarnya khasiat perekonomian proses pengolahan lebih lanjut tersebut, Komaidi menggalakkan pemerintah untuk merumuskan dukungan kebijakan yang dimaksud optimal untuk pengembangan bidang kilang di tempat Indonesia. “Untuk itu, kebijakan pengembangan kilang pada negara-negara lain seperti melalui pemberian insentif pembangunan ekonomi serta perpajakan, atau bahkan berperan segera sebagai pelaksana pada penyelenggaraan kilang, kiranya dapat dipertimbangkan untuk diadopsi,” tandasnya.

Related Articles

Back to top button