Kesehatan

Nyeri Punggung Jangan Dianggap Sepele, Deretan Penyakit Hal ini Membutuhkan Operasi Tulang Belakang

Liputan76 – Nyeri punggung adalah salah satu kesulitan kondisi tubuh yang umum terjadi. Penyebabnya pun cukup beragam menurut Consultant Orthopaedic Spine Surgeon dari ALTY Hospital Kuala Lumpur Dr. Lee Chee Kean, mulai dari otot, syaraf hingga gangguan serius pada tulang belakang. 

Untuk membedakannya, kata Dr. Lee, Anda sanggup meninjau rasa sakitnya terlebih dahulu. Bila terjadi hambatan pada otot, nyeri punggung biasanya akan mereda pada 1 atau 2 hari. 

Namun, jikalau pegal-pegal hingga nyeri punggu terjadi berkepanjangan kemudian bahkan terjadi secara berulang, juga semakin hari makin terasa semakin parah, Dr. Lee menyarankan untuk segera melakukan konsultasi ke dokter untuk mendapatkan penanganan tambahan lanjut. 

Sebab terkadang gangguan kritis pada tulang belakang memerlukan intervensi medis melalui operasi. Ada beberapa kondisi yang digunakan dapat menyebabkan gangguan tulang belakang yang dimaksud parah, yang memerlukan intervensi bedah kata Dr. Lee.

Ilustrasi perempuan kena skoliosis [shutterstock]
Ilustrasi perempuan kena skoliosis [shutterstock]

Beberapa di dalam antaranya termasuk, Hernia nukleus pulposus (HNP). Kondisi ini juga dikenal sebagai saraf terjepit. Hal ini terjadi ketika inti pulposus dari cakram intervertebralis (bantalan tulang punggung) menonjol pergi dari dari tempatnya dan juga menekan saraf spinal.

“Saraf kejepit berbeda dari nyeri punggung biasa saja. Asal puncak sakit datang dari saraf bagian punggung, biasanya terasa pada sepanjang punggung sampai ke pinggul bergantung pada saraf kiri atau kanan, yang digunakan akan terasa di tempat sepanjang kaki,” kata dia.

Gejala bisa jadi sebagai nyeri punggung, kelemahan otot, kebas, kesemutan hingga kehilangan kontrol motorik. Biasanya keluhannya akan lebih banyak berat pada waktu seseorang berjalan atau berdiri terlalu lama.

Selain itu, skoliosis yang dimaksud parah juga memerlukan operasi. Gangguan ini ditandai oleh kelengkungan abnormal tulang belakang. Operasi diadakan untuk memberhentikan kelengkungan pada tulang belakang, mengoreksinya dam menghindari komplikasi seperti nyeri kronis dan juga permasalahan pernapasan.

Lainnya adalah spinal stenosis, kondisi yang tersebut terjadi ketika saluran tulang belakang menyempit, menekan saraf spinal lalu menghasilkan kembali gejala seperti nyeri, kelemahan, dan juga kesulitan berjalan.

Operasi Tulang Belakang

Ada beberapa jumlah pemeriksaan yang diperlukan untuk sebelum dokter memutuskan untuk menjalani operasi tulang belakang. Hal ini diperlukan untuk meyakinkan keperluan yang tersebut tepat kemudian mengevaluasi risiko terkait.

Salah satunya adalah Magnetic resonance imaging (MRI) yang dipakai untuk mendapatkan deskripsi yang detail tentang struktur tulang belakang, saraf, dan juga jaringan lunak. Hal ini membantu pada diagnosis kondisi seperti HNP atau stenosis spinal.

Menurut Dr. Lee, proses operasi tulang belakang biasanya memakan waktu sekitar satu jam, tergantung keparahan kasusnya.  

“Kalau itu kasusnya susah, kita akan ada tim, jadi dapat berbagi opini dari konselor tulang belakang,” jelasnya.

Meskipun operasi tulang belakang banyak kali merupakan solusi yang digunakan efektif untuk mengatasi gangguan serius, tetapi operasi ini, seperti halnya operasi lainnya, mempunyai risiko.

Di antaranya adalah infeksi yang digunakan dapat terjadi dalam area operasi atau bahkan memengaruhi sistem tubuh secara keseluruhan, kecacatan pada saraf spinal yang digunakan dapat mengakibatkan gejala seperti nyeri kronis, kelemahan, hingga kehilangan fungsi motorik.

Serta risiko yang dimaksud terkait dengan anestesi termasuk reaksi alergi atau komplikasi pernapasan. Karena itu kata dia, biasanya pasien dengan lanjut usia membutuhkan pemeriksaan tambahan lanjut sebelum menjalani operasi, salah satunya adalah pemeriksaan jantung.

Walaupun miliki risiko, tetapi Dr. Lee menjamin bahwa dengan pemeriksaan yang memadai dan juga kelompok yang tersebut kompeten, risiko operasi tulang belakang tidaklah tinggi.  

“Itu tidaklah berisiko tinggi. Biasanya satu persen atau bahkan kurang dari satu persen. Yang paling penting adalah memahami keadaan pasien seutuhnya,” tambahnya. 

Related Articles

Back to top button