Otomotif

Pembangunan Stasiun Pengisian Hidrogen Bukti Janji PLN di Transisi Daya di dalam Bagian Otomotif

Liputan76 – Pengembangunan Hydrogen Refueling Station (HRS) oleh PT PLN Indonesia Power, subholding PT PLN (Persero) membuktikan komitmen negara terhadap transisi energi pada sektor otomotif dalam kancah internasional.

Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (PUSKEPI), Sofyano Zakaria mengungkapkan HRS adalah bukti PLN Indonesia Power menjadi pelopor pembentukan habitat transisi energi pada sektor otomotif.

“Saya pikir itu bentuk komitmen negara yang mana hadir melalui perubahan dari BUMN dan juga Subholdingnya, kali ini PLN Indonesia Power sudah membuktikannya di area kancah internasional,” kata Sofyano.

Penggunaan HRS ini akan mampu menekan importasi 1,59 jt liter komponen bakar minyak/BBM per tahun. Selain penghematan pengaplikasian BBM berbasis fosil, penurunan emisi dipastikan terjadi sebesar 4,15 jt kilogram per tahun.

PLN Indonesia Power turut ambil bagian pada pameran otomotif tahunan Indonesia International Motor Show (IIMS) 2024 dengan mengakibatkan HRS yang telah mampu mengalirkan hidrogen ke kendaraan.

HRS merupakan bentuk pengembangan lebih lanjut dari Green Hydrogen Plant (GHP) yang tersebut antara lain merupakan residu dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi/PLTP, Pembangkit Listrik Tenaga Gas juga Uap/PLTGU juga Pembangkit Listrik Tenaga Uap/PLTU.

“Ini bukti komitmen korporasi terhadap pengembangan energi baru terbarukan dan juga pengembangan lingkungan kendaraan masa depan,” kata Sofyano.

Menurut dia, upaya mengubah energi listrik, menjadi energi gerak otomotif itu perlu diapresiasi, hal itu penting untuk menjaga kelanjutan kegiatan transisi energi nasional yang dimaksud merupakan turunan dari cita-cita global.

Untuk itu, tegasnya, skala produksi hidrogen hijau harus terus ditingkatkan dan juga langkah progresif PLN Indonesia Power itu harus menjadi semangat warga untuk menggunakan energi hijau.

“Dengan ini, saya yakin cita-cita net zero emission/NZE pada 2060 akan tercapai lebih lanjut cepat,” katanya.

HRS Pertama PLN

Sebelumnya PT PLN pada Rabu (21/2/2024) meresmikan stasiun pengisian hidrogen pertamanya di tempat Indonesia di tempat Senayan, Jakarta.

“PLN memperkuat perubahan green transportation yang digunakan berbasis pada EV end-to-end,” kata Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo memberi sambutan ketika peresmian stasiun pengisian hidrogen tersebut.

Ia mengungkapkan bahwa sebelumnya PLN juga sudah pernah mengupayakan sistem ekologi kendaraan listrik juga sebagai langkah strategis menggalang inisiatif transisi energi.

“Kami telah bangun sistem electric vehicle digital services dari home charging, Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Kemudian bagaimana kita melakukan simulasi kebijakannya, kita membantu operasionalisasinya, kami mendukung,” ujar Darmawan.

Namun, kata dia, selain pengaplikasian listrik, ada teknologi yang digunakan dikembangkan oleh PLN pada menyokong transportasi ramah lingkungan, yakni hidrogen hijau.

“PLN siap mengupayakan green transportation transformation baik itu EV maupun fuel cells. Beberapa bulan yang mana lalu kami sudah ada meresmikan produksi hidrogen yang tersebut ada di dalam Muara Tawar, Muara Karang, dan juga juga Tanjung Priok. Kemudian di selang waktu sebulan, kami juga memproduksi (hidrogen) di tempat 21 pembangkit kami dengan produksinya 199 ton per tahun dan juga di area di lokasi ini sudah ada green hydrogen dikarenakan kami menyediakan listriknya berbasis pada rooftop juga juga renewable energy certificate,” ujarnya.

Selain itu, kata Darmawan, PLN juga sedang mengembangkan hidrogen hijau dari true renewable energy production dengan mendirikan hydrogen production di dalam Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang.

“Ada tambahan sekitar 4,3 ton per tahun. Jadi, totalnya ada 203 ton green hydrogen dari 22 pembangkit kami yang diproduksi oleh PLN,” kata ia lagi.

Dari total produksi tersebut, PLN semata-mata menggunakan 75 ton untuk permintaan operasional pembangkit, sementara sisanya 128 ton hidrogen hijau dapat digunakan untuk sektor transportasi.

“Kebutuhan dari PLN untuk pendinginan pembangkit kami hanya sekali 75 ton, artinya ada 128 ton green hydrogen yang digunakan bisa jadi digunakan untuk sektor transportasi,” ujar Darmawan pula.

Sementara itu, berdasarkan perhitungan PLN, substansi bakar hidrogen hijau yang dimaksud dihasilkan dari sisa operasional pembangkit sangat kompetitif jikalau dibandingkan dengan BBM. 

Perbandingannya, per 1 kilometer mobil BBM membutuhkan biaya Rupiah 1.300. Sedangkan mobil listrik Mata Uang Rupiah 350 – Rupiah 400 per km, kemudian mobil hidrogen hanya sekali Rupiah 276 per km.

“Ini yang jelas, kalau BBM ada sebagian yang tersebut diimpor. Kalau ini (hidrogen) semuanya komoditas pada negeri,” kata Darmawan.

HRS Senayan nantinya akan semakin strategis, akibat dalam sana juga dibangun charger electric vehicle berbasis hidrogen yang digunakan memiliki fungsi identik dengan SPKLU. 

Selain itu, juga dibangun hydrogen center juga hydrogen gallery room sebagai pusat pelatihan kemudian lembaga pendidikan terkait hidrogen pada Indonesia.

Related Articles

Back to top button