Kesehatan

Sering Dianggap Menggemaskan, Konsekuensi Obesitas Intai Masa Depan Anak

Liputan76 – Wakil Menteri Bidang Kesehatan (Wamenkes) Prof. Dante Saksono Harbuwono mencatat bahwa meskipun obesitas pada anak-anak rutin kali terlihat lucu lalu menggemaskan, namun ada risiko kritis terkait sindrom metabolik, yang digunakan dapat menyebabkan penyakit jantung koroner, stroke, juga kesulitan pembuluh darah di area kemudian hari.

Dalam acara “Multi-Stakeholders Dialogue” Peringatan Hari Obesitas Sedunia Tahun 2024 di dalam Jakarta, Prof. Dante menekankan pentingnya kesadaran akan risiko obesitas pada anak-anak.

“Jadi, kalau kita membiarkan anak-anak itu tetap memperlihatkan gemuk, maka kita menyimpan tabungan anak yang disebutkan untuk menjadi penyakit jantung juga pembuluh darah pada masa yang digunakan akan datang,” kata Prof. Dante pada keterangannya. 

Ilustrasi obesitas - Kebiasaan Sepele yang tersebut Bikin Gemuk. (Pexels)
Ilustrasi obesitas – Kebiasaan Sepele yang tersebut Bikin Gemuk. (Pexels)

Dia menjelaskan bahwa kecenderungan obesitas pada anak banyak kali berasal dari lingkungan keluarga, di tempat mana pola hidup orang tua menjadi contoh bagi anak-anak. Oleh akibat itu, penting untuk menerapkan pola hidup sehat di area pada keluarga sebagai langkah pencegahan.

Kementerian Bidang Kesehatan telah terjadi merilis pedoman gizi seimbang “Isi Piringku,” yang tersebut menyarankan konsumsi lebih besar sejumlah protein daripada karbohidrat di setiap makanan. Protein penting untuk pertumbuhan anak-anak, juga menurunkan konsumsi karbohidrat dapat membantu mengurangi obesitas.

Meskipun demikian, karbohidrat masih penting untuk energi. Namun, Prof. Dante menekankan perlunya pembatasan konsumsi karbohidrat untuk menghindari obesitas pada anak-anak.

Menurut Investigasi Aspek Kesehatan Dasar, sekitar 1 dari 3 penduduk Indonesia mengalami obesitas, juga 1 dari 5 anak-anak mengalami kelebihan berat badan. Angka obesitas terus meningkat di satu dekade terakhir, disebabkan oleh inovasi gaya hidup kemudian pola makan yang kurang sehat.

Dalam hal ini, Direktur Pencegahan serta Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Dr. Eva Susanti, mengakui bahwa akses teknologi juga sarana yang dimaksud memudahkan gaya hidup tidak ada sehat, seperti layanan arahan makan online kemudian ojek online, berkontribusi pada peningkatan obesitas.

Eva menekankan perlunya dukungan dari semua pihak, termasuk sektor masyarakat dan juga swasta, dan juga masyarakat, pada upaya pencegahan lalu pengendalian obesitas. Dia menyatakan bahwa kesuksesan di mengatasi obesitas membutuhkan pengetahuan, kesadaran, lalu perhatian dari setiap individu.

Peringatan Hari Obesitas Sedunia, yang dimaksud jatuh pada tanggal 4 Maret, menjadi momen penting untuk meningkatkan kesadaran dan juga menggalang dukungan di upaya pencegahan obesitas. Tema global “Mari Berbicara tentang Obesitas” juga tema nasional “Ayo Lawan Obesitas” menekankan pentingnya kolaborasi juga tindakan dengan untuk mengatasi hambatan ini. 

Related Articles

Back to top button