Kesehatan

Tak Cuma Dewasa, Anak Juga Bisa Idap Penyakit Jantung Bawaan, Yuk Deteksi Sejak pada Kandungan!

Liputan76 – Congenital Heart Disease atau yang mana biasa disebut Penyakit Jantung Bawaan (PJB) merupakan kelainan jantung yang mana diidap seseorang sejak lahir.

Kondisi yang disebutkan tentu sekadar dapat mengancam jiwa akibat mengganggu aliran darah, dari kemudian menuju jantung.

“Setengah dari PJB adalah kelainan minor dan juga dapat dikoreksi dengan pembedahan sederhana, tetapi lebih tinggi dari setengah faktor kematian anak lantaran kelainan bawaan, “ ujar Dr. dr. Didi Danukusumo, SpOG., Subsp.K.Fm.,MPH di dalam Seminar Awam bertajuk “Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan sejak Janin, Bayi, juga Anak-anak,” yang digunakan diselenggarakan oleh RS Premier Bintaro memeringati Congenital Heart Disease Awareness Week, belum lama ini.

Melansir dari buku A Practical Guide to Fetal Echodardiography 2nd Edition 2010 karya Alfred Abuhamad & Chaoui, ia menuturkan bahwa dari 1000 kelahiran hidup rata-rata terdapat 50 persoalan hukum Penyakit Jantung Bawaan.

Nah, untuk menurunkan risiko PJB, kata Dr. Didi, ada beberapa hal yang dimaksud dapat dilakukan, yaitu mengenali faktor risiko, baik ibu maupun janin.

Pada ibu hamil, lanjut dia, beberapa faktor risiko yang mana mampu memicu janin mengalami penyakit jantung bawaan, seperti pola makan, kondisi kebugaran atau penyelenggaraan obat kemudian merokok selama kehamilan.

“Sedangkan beberapa faktor risiko pada janin antara lain kelainan gen atau kromosom, kelainan irama jantung, penebalan tengkuk dan juga plasenta pada kehamilan 1 telur,” imbuhnya.

Lantas, apa gejalanya bila bayi mengidap penyakit jantung bawaan? Prof. Dr. dr. Najib Advani, Sp.A (K) MMed. (Paed.) menuturkan bahwa ada beberapa tindakan hukum gejalanya muncul segera setelahnya bayi baru lahir antara lain; bibir, kulit, jari tangan, lalu kaki kebiruan, sesak napas atau kesulitan bernapas.

“Selain itu bayi juga kesulitan makan, berat lahir rendah, nyeri dada, juga perkembangan yang dimaksud lambat,” tambahnya.

Selain itu, menurut Prof. Najib, ada juga gejala yang dimaksud muncul beberapa tahun pasca lahir, seperti irama jantung yang digunakan tak normal, pusing, kesulitan bernapas, pingsan maupun kelelahan.

Untuk menghindari PJB, Dr. Didi menyarankan ibu hamil mengonsumsi asam folat 0.8mg. Selain itu disarankan pula melakukan skrining secara berkala seperti skrining kelainan bawaan pada trimester 1.

“Kemudian pada trimester 2 dilaksanakan pemeriksaan Genetic Ultrasound dan juga Feto Echocardiography. Apabila ditemukan kecurigaan PJB, dokter spesialis zat akan bekerjasama dengan dokter spesialis jantung anak mendiskusikan kondisi jantung janin serta juga persiapan kelahiran bayi,” terangnya.

Pemeriksaan Fetal Echocardiography, tambah Dr. Didi, kembali akan dilaksanakan oleh dokter spesialis jantung anak untuk menegakkan diagnosis kemudian menentukan penanganan bayi pasca lahir.

Di pemeriksaan ini, kata dia, akan melibatkan beberapa dokter spesialis seperti dokter spesialis anak neotatologi juga dokter spesialis bedah jantung anak.

“Penyakit Jantung Bawaan ada yang sembuh dengan sendirinya, namun ada juga yang dimaksud harus menjalani tindakan intervensi, baik sebagai terapi bedah seperti operasi paliatif Pulmonary Artery Banding pada perkara VSD besar, operasi ligase PDA, kemudian lain-lain, maupun terapi non-bedah seperti Balloon Atrial Septostomy (BAS) pada persoalan hukum TGA, pemasangan coil pada persoalan hukum VSD, ASD, PDA, serta tindakan lainnya,” urai Dr. Didi merinci.

Dengan digelarnya Seminar Awam bertajuk “Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan sejak Janin, Bayi, lalu Anak-anak” ini, pimpinan RS Premier Bintaro, Dr. Martha M.L. Siahaan, Prof Najib juga Dr. Didi berharap publik semakin memahami pentingnya deteksi kelainan jantung anak sejak pada kandungan.

“Masih berbagai penduduk yang digunakan belum mengetahui adanya penyakit jantung pada anak-anak. Jadi penyakit jantung memang benar tak menyerang orang dewasa saja. Penyakit jantung pada anak-anak harus ditangani sedini mungkin saja agar tak terlambat kemudian berakibat fatal, sehingga kita dapat memperbaiki kualitas generasi muda kita,” tutupnya.

Related Articles

Back to top button